PWNU Bangka Belitung Sesalkan Aksi Klaim Oknum PWNU Tentang Lokasi Muktamar NU

Jam'iyyahMuktamar NUPWNU Bangka Belitung Sesalkan Aksi Klaim Oknum PWNU Tentang Lokasi Muktamar NU

JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) – Aksi klaim yang dilakukan sejumlah oknum Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) yang menyatakan dukungannya terhadap DKI Jakarta sebagai lokasi Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), sangat disesalkan Ketua Tanfidziyah PWNU Kepulauan Bangka Belitung, Dr KH Masmuni Mahatma S.Fil.I, MAg. Pasalnya, semua pimpinan PWNU di Indonesia telah sepakat menyerahkan keputusan tentang lokasi Muktamar ke-35 NU kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Karenanya, Kiai Masmuni menegaskan, jika ada pernyataan tentang adanya 32 PWNU di Indonesia yang mendukung DKI Jakarta sebagai tuan rumah Muktamar NU mendatang adalah klaim sepihak.

“Banyak PWNU yang belum menentukan sikapnya, dan menyerahkan semua itu kepada PBNU, ndak usah di klaim-klaim begitulah. Itu bisa ditanya langsung kepada PWNU-PWNU yang bersangkutan,” tegas Kiai Masmuni saat dikonfirmasi SuaraNahdliyin.id, Sabtu (4/7/2026).

H Masmuni juga sangat menyayangkan aksi klaim dan sifat penjilat kekuasaan yang diperlihatkan oknum PWNU tersebut. “Jangan terlalu jadi penjilat. Penjilat kekuasaan itu tidak perlu terlalu ditampakkan begitu,” tegasnya.

Ia pun mengingatkan, aksi yang dilakukan oleh oknum ketua PWNU tersebut tidak mencerminkan karakter seorang pengurus NU. “Saya heran, kok mereka gak yakin kalau NU itu punya keramat. Kok masih mau memulai dengan dusta-dusta begitu. Lagian Lampung (sindiran kepada Ketua PWNU Lampung, H Puji Raharjo) kan barusan jadi tuan rumah, harusnya memberikan contoh yang baik, bukan terlibat yang begini-begini,” kata Kiai Masmuni.

Terkait klaim dukungan mayoritas PWNU yang telah disepakati dalam rapat koordinasi daring atau zoom para Ketua PWNU pada Kamis malam, 2 Juli 2026., Kiai Masmuni juga membatah adanya rapat koordinasi via zoom tersebut.

“Itu zoom-zoom mereka. Yang zoomnya klaim-klaiman itu. Bisa dicek PW-PW itu. Banyak yang belum menentukan sikap. Gimana dengan klaim-klaim begitu, memulai dengan dusta-dusta begitu,” jelasnya.

Kiai Masmuni justru mempertanyakan alasan oknum PWNU yang melakukan klaim tersebut keberatan dengan Ponpes Lirboyo Kota Kediri sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 NU. Menurutnya, jika pelaksanaan Muktamar digelar di Jakarta justru akan banyak orang-orang luar yang ‘bermain’ dalam muktamar.

“Kalau di Jakarta, itu kan orang-orang luar itu. Masyaallah. Nilai spiritualitasnya akan bagaimana ya?,” kata Kiai Masmuni dengan nada khawatir.

Karena itu, Ia meminta kepada semua pengurus NU untuk menempatkan Muktamar NU kembali ke pesantren. Di samping tempatnya nyaman dan lebih memiliki satu energi untuk memberikan semangat kepada pengurus NU dalam menjalani abad kedua.

“Kalau di pondok pesantren tua seperti Lirboyo, tentunya mendapat berkah dari kiai-kiai sepuh, juga memiliki akar historis yang kuat. Tidak perlu diragukan lagi lah,” tegasnya.

Untuk itu, ia meminta kepada semua pengurus NU, khususnya terhadap oknum pengurus yang seringkali menyatakan klaim-klaim tersebut, untuk lebih arif dan bijaksana tidak lagi terlibat aksi klaim.

“Mari sebagai pengurus PW kita harusnya lebih arif dan bijaksana tidak terlibat klaim-klaiman begitu. Gak usah terlibat dusta mendustakan yang gitu-gitu. Kita ini NU,” tegasnya.

Di tengah situasi NU saat ini, H Masmuni mengatakan, jika saat ini NU membutuhkan satu landasan spiritual atau konstruksi spiritual untuk semakin meneguhkan, dan menguatkan energi serta potensi NU menyambut abad kedua. “Oleh karena itu, butuh pondok pesantren yang memang secara akar historis, ya tentu secara spiritual dan kultural akarnya kuat di NU,” cetusnya.

Untuk itu, ia menegaskan, jika PWNU Kepulauan Bangka Belitung mendukung Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 NU mendatang.

“Saya mendukung Lirboyo sebagai tuan rumah Muktamar itu bukan tanpa alasan, rasionalitynya ada, proposionalitasnya ada, akar historisnya juga ada. Itu perlu ditanamkan kepada kita semua, apapun bentuknya dalam menyambut abad kedua ini, NU harus menjadi kekuatan spiritual, kekuatan peradaban yang jelas akarnya,” tegasnya.

Karenanya, ia sangat menyesalkan adanya aksi tarik-menari ataupun aksi klaim-klaiman, apalagi sampai melakukan tindakan dusta. “Kalau memulai sesuatu dengan dengan dusta-dusta begitu. Karakter NU-nya jadi hilang. Sekali lagi sebagai PWNU dan mewakili PCNU-PCNU, kita semuanya ini berharap pengurus bisa arif, dan semuanya tidak lagi klaim-klaiman, dan tidak terjebak disitu terus. Sehingga membuat umat ini semakin menertawakan kita,” pesannya.

Bagaimana dengan wacana pembukaan Muktamar dilaksanakan di Tambak Beras Jombang, sementara pelaksanaan Muktamarnya di Lirboyo? “Monggo. Kalau penguasa (Presiden ataupun Wakil Presiden) kita datang ke kediri karena takut jatuh misalnya. Itu kan bisa dilakukan (Pembukaan di Tambak Beras Jombang dan pelaksanaan di Lirboyo). Toh kemarin juga begitu. Pembukaan dan pelaksanaannya (Munas Alim Ulama dan Konbes NU) di Ponpes Ploso Kediri, sedangkan penutupannya di Ponpes Syaikhona Kholil Bangkalan. Itu kan rasional,” terangnya.

Yang jelas, lanjut Kiai Masmuni, pembukaannya bisa dilakukan di mana saja. Namun untuk pelaksanaan dalam menentukan garis-garis besar NU, sekaligus dalam menentukan kualitas jam’iyyah ke depan dibutuhkan sandaran pondok pesantren.

“Sejauh ini tidak ada pesantren yang sekuat Lirboyo secara akar historis, apalagi secara sosiologi keilmuan, hampir seluruh Indonesia alumni-alumni Lirboyo memberikan konstribusi riil terhadap perjalan Nahdlatul Ulama. Ini harus dilihat,” kata Kiai Masmuni.

Apalagi, kata Kiai Masmuni, kekuatan Ponpes Lirboyo juga sudah teruji dengan keberhasilannya mengislahkan polemik antarpimpinan di tubuh PBNU.

“Kuncinya NU itu karomah. Karena itu, masa pesantren seperti lirboyo itu masih mau diabaikan karomahnya, atau jangan-jangan mohon maaf kualat itu nanti mereka yang telah melakukan aksi klaim-klaiman itu. Sudahlah jangan main klaim-klaim begitu. Itu tidak benar,” pungkasnya.

Sebelumnya, PWNU Lampung menyatakan bersama 31 PWNU lainnya mendukung DKI Jakarta menjadi lokasi penyelenggaraan Muktamar Ke-35 NU. Menurut klaim PWNU Lampung, dukungan tersebut merupakan hasil rapat koordinasi para ketua PWNU yang digelar secara daring pada Kamis (2/7/2026) malam. Hasil rapat itu disebut akan menjadi usulan kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) agar menetapkan salah satu pondok pesantren di Jakarta sebagai lokasi muktamar.

“PWNU Lampung bersama PWNU lainnya memberikan dukungan kepada DKI Jakarta karena dinilai memiliki kesiapan yang memadai untuk menjadi tuan rumah Muktamar Ke-35 NU. Pertimbangan ini murni didasarkan pada aspek efektivitas penyelenggaraan, kemudahan koordinasi, serta kemaslahatan organisasi,” ujar Ketua PWNU Lampung H Puji Raharjo. rai

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles