Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan menggelar rapat pleno pada Selasa 7 Juli 2026 untuk menentukan lokasi Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang sesuai jadwal akan berlangsung pada 1–5 Agustus 2026. Ponpes Lirboyo Kediri paling diunggulkan untuk jadi tuan rumah. Mengapa? Ini sembilan alasan yang dirangkum dari berbagai sumber.
Oleh Joko Santoso
MUKTAMAR ke-35 NU bukan sekadar agenda lima tahunan organisasi. Muktamar kali ini memiliki makna yang jauh lebih besar karena menjadi muktamar pertama NU pada abad kedua. Karena itu, penentuan lokasi penyelenggaraan tidak dapat hanya didasarkan pada pertimbangan teknis semata, melainkan juga harus mempertimbangkan pesan simbolik, historis, kultural, dan strategis yang ingin disampaikan kepada warga Nahdliyin serta bangsa Indonesia, bahkan dunia, mengingat peran NU di kancah global yang semakin besar.
Saat ini dari sembilan pondok pesantren di lima provinsi sebagai kandidat tuan rumah muktamar, nama Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, terus mendapatkan dukungan dari berbagai kalangan. Sejumlah PWNU dan PCNU dari berbagai daerah secara terbuka menyampaikan dukungan agar Lirboyo menjadi lokasi Muktamar ke-35 NU. Dukungan itu datang antara lain dari PWNU dan PCNU se-Jawa Tengah dan DIY, PCNU Rembang, PCNU Jepara, PCNU se-Jatim, serta sejumlah cabang lainnya. Mereka menilai Lirboyo memiliki kapasitas historis, kultural, dan organisatoris yang sulit ditandingi oleh kandidat lain.
Pertanyaannya, mengapa perlu memberikan prioritas kepada Lirboyo?
Pertama, Lirboyo adalah simbol kembalinya NU ke rumah besarnya: pesantren
NU lahir dari rahim pesantren. Sejarah NU tidak dapat dipisahkan dari para kiai pengasuh pondok pesantren yang menjadi penjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah di Nusantara.
Karena itu, ketika NU memasuki abad kedua, ada kerinduan besar di kalangan warga Nahdliyin agar organisasi ini kembali menegaskan identitas dasarnya sebagai jam’iyah yang bertumpu pada pesantren.
Muktamar di Lirboyo akan menjadi simbol kuat bahwa NU tetap berpijak pada akar tradisinya. Pesan yang muncul bukan sekadar soal lokasi, tetapi tentang orientasi peradaban. Bahwa di tengah modernisasi organisasi, ekspansi ekonomi, digitalisasi, dan berbagai agenda besar lainnya, NU tidak melupakan sumber kekuatannya, yakni pesantren.
Dan Lirboyo bukan hanya pesantren besar. Ia merupakan salah satu ikon pesantren salaf terbesar di Indonesia yang selama puluhan tahun menjadi pusat kaderisasi ulama, kiai, guru agama, dan penggerak NU di berbagai daerah. Menyelenggarakan muktamar di Lirboyo berarti menegaskan bahwa pesantren tetap menjadi jantung Nahdlatul Ulama.
Kedua, Lirboyo memiliki legitimasi historis yang kuat
Lirboyo bukan nama baru dalam sejarah NU. Pesantren ini pernah menjadi tuan rumah Muktamar ke-30 NU pada tahun 1999. Muktamar tersebut menjadi salah satu momen paling penting dalam sejarah NU pasca-Reformasi.
Saat itu NU menghadapi tantangan besar setelah era Presiden KH Abdurrahman Wahid. Namun muktamar berlangsung relatif lancar dan menghasilkan kepemimpinan baru yang diterima oleh mayoritas warga NU. Pengalaman tersebut menjadi modal yang sangat berharga.
Tidak semua pesantren memiliki pengalaman menyelenggarakan agenda organisasi sebesar muktamar. Lirboyo sudah pernah membuktikan kemampuannya.
Nah untuk muktamar, tentu membutuhkan lokasi yang memiliki rekam jejak, bukan sekadar kesiapan di atas kertas.
Ketiga, Lirboyo memiliki otoritas moral yang diterima berbagai kelompok NU
Salah satu tantangan terbesar menjelang Muktamar ke-35 adalah bagaimana menjaga persatuan warga Nahdliyin di tengah berbagai perbedaan pandangan.
Dalam situasi seperti ini, lokasi muktamar perlu dipilih dari lingkungan yang memiliki daya rekat moral tinggi.
Lirboyo selama ini dikenal sebagai pesantren yang relatif diterima oleh berbagai spektrum di tubuh NU.
Jaringan alumninya sangat luas. Para alumninya tersebar dalam berbagai posisi, mulai dari pengasuh pesantren, pengurus NU, akademisi, birokrat, politisi, hingga tokoh masyarakat. Mereka tersebar di seluruh Nusantara bahkan menjadi diaspora di berbagai negara.
Karena itu, Lirboyo sering dipandang sebagai titik temu berbagai kelompok di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Sejumlah kalangan bahkan menilai pesantren ini memiliki tradisi kuat dalam menjaga ukhuwah dan menjadi ruang islah ketika terjadi dinamika internal NU.
Di tengah suasana menjelang muktamar yang cukup hangat, faktor ini menjadi sangat penting.
Keempat, dukungan akar rumput terhadap Lirboyo sangat besar
Dalam organisasi sebesar NU, suara cabang dan wilayah tidak boleh diabaikan.
Belakangan muncul dukungan terbuka dari sejumlah PWNU dan PCNU yang menginginkan Muktamar ke-35 diselenggarakan di Lirboyo. Bahkan forum PWNU dan PCNU DIY-Jawa Tengah secara terbuka menyatakan bahwa Lirboyo merupakan lokasi paling strategis untuk muktamar abad kedua NU.
PCNU Rembang juga menegaskan dukungannya dengan alasan kapasitas pesantren, jaringan alumni, fasilitas, serta kontribusi historis Lirboyo terhadap NU.
Begitu pula PCNU Jepara yang menilai PBNU perlu mendengarkan aspirasi para kiai sepuh dan basis pesantren dalam menentukan lokasi muktamar.
Lihat juga hasil polling NU Online sampai Ahad 5 Juli 2026 malam pukul 21.15, dukungan terus bertambah menjadi sebanyak 9.900 responden memilih Lirboyo, sementara ponpes kandidat lain hanya dipilih ratusan responden atau di bawah 1.000 kecuali Ponpes Tambakberas Jombang yang dipilih 10.500 dan Kempek Cirebon 1.100 pemilih. Ponpes Tambakberas sendiri memang dipersiapkan untuk acara pembukaan muktamar.
Dukungan yang datang dari bawah menunjukkan bahwa pilihan terhadap Lirboyo bukan sekadar keinginan lokal Kediri atau Jawa Timur, melainkan aspirasi yang berkembang di banyak daerah.
Maka untuk muktamar, tentu perlu memperhatikan suara tersebut demi menjaga rasa memiliki seluruh warga Nahdliyin terhadap muktamar.
Kelima, kapasitas fisik dan logistik Lirboyo sudah teruji
Muktamar NU merupakan salah satu forum organisasi terbesar di Indonesia.
Peserta yang hadir bisa mencapai puluhan ribu orang jika dihitung bersama peninjau, tamu undangan, panitia, dan penggembira.
Karena itu, kesiapan fisik menjadi faktor penting.
Lirboyo memiliki kawasan pesantren yang luas dengan dukungan jaringan pondok unit dan kompleks pendidikan yang besar. Selain itu, Kota Kediri memiliki akses transportasi yang semakin baik dibandingkan dua dekade lalu.
Keberadaan Bandara Dhoho Kediri, jaringan jalan nasional, dan transportasi seperti kereta api, serta dukungan pemerintah daerah menjadi nilai tambah yang signifikan.
Jaringan alumni Lirboyo yang tersebar di seluruh Indonesia juga menjadi modal sosial yang sangat besar dalam mendukung penyelenggaraan muktamar.
Jika diperlukan mobilisasi relawan, konsumsi, akomodasi, pengamanan, maupun pelayanan peserta, Lirboyo memiliki sumber daya manusia yang memadai.
Keenam, Lirboyo memiliki posisi simbolik sebagai representasi pesantren salaf
NU adalah organisasi yang sangat menghargai tradisi keilmuan.
Dalam konteks ini, Lirboyo memiliki posisi yang istimewa. Pesantren ini dikenal luas sebagai salah satu benteng pesantren salaf yang konsisten mempertahankan tradisi pengajian kitab kuning, bahtsul masail, dan pendidikan ulama.
Memilih Lirboyo berarti mengirim pesan bahwa NU tetap menjadikan tradisi keilmuan sebagai fondasi utama organisasi.
Pesan ini penting karena NU saat ini menghadapi tantangan besar berupa perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan transformasi generasi.
Modernisasi memang penting, tetapi modernisasi tanpa akar tradisi berpotensi membuat organisasi kehilangan identitasnya.
Ketujuh, Muktamar di Lirboyo akan memperkuat rekonsiliasi internal NU
Tidak dapat dipungkiri bahwa menjelang Muktamar ke-35 muncul berbagai perdebatan mengenai sejumlah isu strategis organisasi.
Dalam situasi demikian, NU membutuhkan ruang yang kondusif untuk membangun dialog dan rekonsiliasi.
Pesantren memiliki atmosfer yang berbeda dibandingkan hotel atau pusat konvensi. Di pesantren, para peserta muktamar tidak hanya mengikuti sidang formal. Mereka juga berada dalam lingkungan yang sarat nilai spiritual, adab, dan penghormatan kepada ulama.
Suasana seperti ini sering kali lebih efektif untuk meredakan ketegangan dibandingkan forum-forum formal yang kaku.
Karena itu, banyak kalangan menilai muktamar di pesantren dapat membantu menciptakan suasana yang lebih teduh dan produktif.
Kedelapan, Lirboyo memiliki daya simbolik nasional
Nama Lirboyo sudah dikenal hampir di seluruh Indonesia. Di banyak daerah, alumni Lirboyo menjadi tokoh agama yang dihormati masyarakat. Jaringan ini bukan hanya besar, tetapi juga aktif.
Ketika muktamar diselenggarakan di Lirboyo, efek mobilisasi sosial dan partisipasi warga NU akan jauh lebih besar.
Antusiasme masyarakat juga diperkirakan meningkat karena mereka merasa memiliki kedekatan emosional dengan pesantren tersebut. Hal ini penting untuk menunjukkan bahwa muktamar bukan hanya milik elite organisasi, tetapi milik seluruh warga Nahdliyin.
Kesembilan, memilih Lirboyo berarti menghormati peran para masyayikh
NU dibangun di atas tradisi penghormatan kepada ulama. Karena itu, suara para masyayikh dan kiai sepuh memiliki nilai penting dalam kehidupan organisasi.
Dalam berbagai kesempatan, sejumlah kiai sepuh dan pengasuh pesantren besar disebut mendukung agar muktamar diselenggarakan di Lirboyo. Aspirasi ini tidak semestinya dipahami sebagai tekanan politik, melainkan sebagai masukan moral dari para penjaga tradisi NU.
PBNU tentu memiliki kewenangan penuh menentukan lokasi muktamar. Namun mendengarkan suara para masyayikh akan memperkuat legitimasi keputusan yang diambil.
Penutup: Momentum Kembali ke Jati Diri
Pada akhirnya, penentuan lokasi Muktamar ke-35 NU bukan semata persoalan geografis. Bukan soal kesiapan fisik semata, sebab kita yakin sembilan pesantren yang jadi kandidat pasti semua layak dan siap, tapi, sekali lagi, muktamar ke-35 NU merupakan momen yang lebih dari itu.
Ini adalah keputusan simbolik yang akan dibaca oleh jutaan warga Nahdliyin sebagai arah perjalanan NU memasuki abad kedua.
Semua kandidat pesantren yang masuk daftar survei tentu memiliki kelebihan masing-masing. Tidak ada alasan untuk meragukan kontribusi Pondok Pesantren Buntet, Kempek, Babakan Ciwaringin, Tambakberas, Al Hamid, Darur Rahman, Syekh Al Falah, maupun Qomarul Huda.
Namun jika ingin mengirim pesan yang kuat tentang kembalinya NU kepada akar pesantren, penghormatan kepada tradisi ulama, penguatan ukhuwah, serta rekonsiliasi internal organisasi, maka Pondok Pesantren Lirboyo memiliki keunggulan yang sulit ditandingi.
Lirboyo bukan hanya lokasi.
Lirboyo adalah simbol.
Simbol bahwa setelah seratus tahun perjalanan panjangnya, Nahdlatul Ulama tetap tahu dari mana ia berasal, dan ke mana ia akan kembali. (*)

