Jangan Berhenti di Tengah Samudra

OpiniJangan Berhenti di Tengah Samudra

Empat tahun bukan waktu yang pendek.

Empat tahun adalah musim. Ada ombak yang datang tanpa diundang. Ada angin yang berubah arah. Ada badai yang memaksa nahkoda memilih: berlindung di teluk yang tenang atau tetap membawa bahtera menuju tujuan.

Gus Yahya memilih berlayar.

Tidak semua orang menyukai arah kemudinya. Tidak semua penumpang sepakat dengan setiap keputusan. Bahkan ada yang memilih berdiri di tepi pelabuhan sambil menghitung kesalahan kapal yang sedang berlayar.

Tetapi sejarah hampir selalu ditulis oleh mereka yang berani mengarungi lautan, bukan oleh mereka yang hanya mengamati ombak dari daratan.

Saya melihat PBNU hari ini seperti sebuah bahtera besar. Bahtera yang memuat jutaan harapan, ribuan pesantren, puluhan ribu kiai, dan jutaan warga nahdliyin yang mencintai jam’iyah ini dengan doa-doa yang tak pernah putus.

Bahtera sebesar itu tentu tidak mungkin berlayar tanpa gesekan. Semakin besar kapal, semakin besar pula gelombang yang menerpanya.

Namun saya percaya, ukuran seorang pemimpin bukan ditentukan oleh seberapa sedikit kritik yang diterimanya, melainkan oleh seberapa kuat ia tetap menjaga arah ketika kritik datang dari berbagai penjuru.

Khidmah bukan perlombaan seratus meter. Ia adalah perjalanan panjang yang membutuhkan napas, kesabaran, dan istiqamah.

Dalam perjalanan panjang itu, yang paling dibutuhkan bukan hanya keberanian mengambil keputusan, melainkan keluasan dada menerima perbedaan. NU sejak awal berdiri adalah rumah besar yang menaungi beragam watak, tradisi, dan cara pandang. Rumah sebesar ini tidak mungkin dikelola dengan suara yang seragam, tetapi dengan kebijaksanaan yang mampu merangkul semua suara tanpa kehilangan arah.

Karena itu, saya berharap Gus Yahya masih diberi kesempatan untuk melanjutkan khidmah satu periode ke depan.

Bukan karena tidak ada kader lain yang layak.

NU tidak pernah kekurangan ulama. Tidak pernah kekurangan intelektual. Tidak pernah kekurangan pemimpin.

Tetapi sebuah pekerjaan besar kadang membutuhkan kesinambungan. Ada bangunan yang tidak cukup didirikan oleh satu musim. Ada pohon yang baru berbuah setelah bertahun-tahun disiram dengan kesabaran.

Estafet memang harus berpindah tangan. Namun estafet yang baik adalah estafet yang diberikan ketika lintasan telah selesai ditata, bukan ketika para pelari masih sibuk membuka jalan.

Saya percaya, jabatan bukan kemuliaan. Jabatan hanyalah amanah yang suatu hari pasti dikembalikan.

Tetapi saya juga percaya, amanah yang belum selesai tidak sepatutnya dihentikan hanya karena angin politik berembus lebih kencang.

Gus Yahya telah menunjukkan bahwa memimpin NU bukan sekadar berdiri di podium, melainkan berani memasuki ruang-ruang dunia, memperkenalkan wajah Islam Indonesia yang teduh, beradab, dan menghormati kemanusiaan.

Di situlah khidmah menemukan maknanya.

Khidmah yang sejati tidak selalu diukur dari riuhnya tepuk tangan. Sering kali ia justru tumbuh dalam kerja-kerja sunyi; menyambungkan yang retak, mendamaikan yang berselisih, membuka pintu dialog ketika banyak orang memilih menutupnya. Sejarah para ulama mengajarkan bahwa pengabdian terbesar sering lahir bukan dari popularitas, melainkan dari kesediaan memikul amanah tanpa banyak meminta penghormatan.

Seorang kiai tidak sedang membangun namanya sendiri. Ia sedang menjaga rumah yang diwariskan oleh para muassis. Rumah yang tiangnya ditanam dengan air mata, doa, dan pengorbanan para ulama.

Rumah sebesar NU tidak dibangun dengan tepuk tangan.

Ia dibangun dengan kesabaran.

Ia dijaga dengan keikhlasan.

Ia diwariskan dengan adab.

Mungkin itulah sebabnya, setiap Muktamar NU sesungguhnya bukan sekadar memilih seorang ketua umum. Yang sedang dipilih adalah arah layar, irama dayung, dan kesinambungan perjalanan sebuah bahtera yang usianya telah melampaui satu abad. Pergantian pemimpin adalah keniscayaan, tetapi menjaga agar bahtera tetap utuh adalah kewajiban seluruh nahdliyin.

Maka, jika Muktamar kelak menjadi tempat bermusyawarah, biarlah yang berbicara bukan hanya kepentingan sesaat, melainkan kejernihan hati untuk melihat perjalanan yang telah ditempuh dan pekerjaan yang masih menunggu diselesaikan.

Saya tidak sedang mengampanyekan seseorang.

Saya hanya sedang berdoa agar NU dipimpin oleh orang yang paling mampu menjaga marwahnya, merawat persatuannya, dan meneruskan khidmah dengan istiqamah.

Dan jika Allah masih menakdirkan amanah itu berada di pundak Gus Yahya untuk satu periode lagi, semoga beliau diberi keluasan dada seperti samudra, keteguhan seperti mercusuar yang tak pernah padam diterpa ombak, dan keikhlasan sebagaimana para kiai dahulu mengabdi tanpa pernah menghitung tepuk tangan.

Sebab pada akhirnya, yang dikenang sejarah bukan siapa yang paling lama memegang kemudi, melainkan siapa yang berhasil membawa bahtera sampai ke pelabuhan dengan seluruh penumpangnya tetap merasa memiliki rumah yang sama: Nahdlatul Ulama.

Karena bagi para pengabdi, jabatan hanyalah giliran. Yang abadi adalah khidmah. Dan selama khidmah itu masih dibutuhkan oleh jam’iyah ini, semoga Allah senantiasa menghadirkan pemimpin yang mampu mengarungi samudra zaman tanpa kehilangan kompas adab, ilmu, dan keikhlasan.


Ahmad Chuvav Ibriy

Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik; Penasehat LBM PCNU Kabupaten Gresik



Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles